Minggu, 29 September 2019

4 years later



Baekhyun sedikit sensitif dengan musim dingin, karena ia mendapati semua penderitaan terpedih dalam hidupnya selama ini, sering sekali terjadi di musim dengan udara yang paling menusuk tulang itu. Pepohona yang sudah mulai meranggas di musim gugur pun, seperti menjadi penanda kalau musim salju terberat itu cepat atau lambat akan segera datang menghampiri.

Pria itu berjalan perlahan ditanah makam yang sepi, tangannya menggenggam erat jemari lentik milik puteri kecilnya. Hanya mereka berdua saja yang sedang berada disana dan senyumnya sedikit merekah saat mendapati puterinya melompat-lompat kecil sambil melangkah, tentu saja balita itu belum tahu dan belum mengerti dimana ia sedang berada. Mungkin dia kira, Ayahnya hanya sedang membawanya berjalan-jalan ke taman, sama seperti setiap sore di hari minggu sebelumnya, bedanya hanya terletak pada suasana yang terlihat lebih sepi dan tenang.

Untuk itu Baekhyun berjongkok sebentar, mengusap pipi putih pucat milik puterinya dengan lembut, agar bocah itu cepat-cepat meraih atensinya. “Putri Appa yang cantik, tau tidak kita ada dimana sekarang?”

Perempuan kecil bersepatu mengkilat berwarna merah muda itu mengangguk cepat, membuat pipinya ikut bergerak menggemaskan selaras dengan anggukannya. “Tau Appa! Kita sedang bermain di taman seperti biasa kan?”

Baekhyun masih saja mengulas senyum hangatnya, wajah puterinya itu sangat mengingatkannya kepada wajah seseorang yang sangat ia cintai dengan sepenuh jiwa. “Bukan tuan puteri, kita sedang berada dipemakaman. Semua orang-orang yang ada disini, sudah tidak lagi di dunia dan sekarang sedang melihat kita dari surga.”

“Hah? Dari surga? Baekhee tidak mengerti Appa...”

Baekhyun mengusap-usap kepala Byun Baekhee pelan, “memang belum waktunya untukmu mengerti sayang. Ketika nanti Baekhee lebih besar sedikit lagi, kau akan tau." Baekhyun tidak bisa menahan senyum saat mendapati bola mata Baekhee yang membulat seakan tidak mengerti. "Sekarang mau ikut Appa?”

Si kecil yang menggemaskan itu mengangguk-angguk semangat karena begitu penasaran. Baekhyun bangkit berdiri lagi, puterinya yang sebelumnya berjalan sendiri, sekarang ia raih ke dalam gendongannya. Langkahnya kembali menyusuri jalan setapak menuju makam dengan lapisan marmer dan salib besar yang menjadi tujuannya di depan sana.

“Kita sudah sampai nak.” Baekhyun berjongkok dan berlutut, kemudian meletakan sebuket besar mawar merah disana.

Byun Baekhee hanya memandangi Ayahnya yang tampan dengan raut tidak mengerti, “Appa, kenapa bunganya tidak untukku saja? Kenapa ditaruh ke tanah?”

“Bunga ini untuknya sayang.. Ayah akan membelikan lebih banyak lagi bunga untuk Baekhee, di jalan pulang nanti.”

Ada helaan nafas yang panjang dari Baekhyun setelahnya, kemudian ia mengecup puncak kepala putri semata wayangnya itu pelan. Dan puterinya itu lagi-lagi membuka mulutnya dengan begitu penasaran, “Dia yang Ayah maksud itu siapa?”

“Kau boleh memanggilnya Ibu, nak.” Lelaki itu segera bangkit berdiri setelah selesai memanjatkan doa singkat dan menepuk-nepuk ceceran tanah yang mengotori celana Bahannya. “Tuan puteri ayo kembali ke mobil, kita pulang.”

Baekhyun memang sengaja menunggu respon dari gadis kecilnya itu, dan apa yang selanjutnya dilakukan oleh Byun Baekhee adalah bangkit dari pangkuannya, kemudian mengusap-usap batu nisan dengan pelan. “Aku ingin melihat Ibu, pasti Ibu cantik.”

Baekhyun tersenyum melihat tingkah puteri kecilnya yang menggemaskan, ia meraih tubuh Byun Baekhee ke dalam gendongannya dan kembali berjalan keluar dari komplek pemakaman. Disana mobil mereka sudah terparkir, dan ia semakin mempercepat langkahnya, tidak mau menerima konsekuensi membangunkan macan yang tertidur jika ia kembali lebih lama daripada waktu yang telah disepakati.

Baekhyun membiarkan Baekhee berlari sendirian dan masuk lewat pintu belakang mobil. Begitu lelaki itu membuka pintu di jok samping kemudi, tatapannya langsung disambut dengan sorot tajam istrinya yang terlihat seperti ingin memakannya hidup-hidup.

 “SUDAH KUBILANG WAKTU KALIAN HANYA TIGA PULUH MEN—“ Dan ia sudah harus repot-repot menghentikan cerocosan seorang Ahn Yena dengan kecupan bibirnya, setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan. Baekhyun langsung melepaskannya karena tidak mungkin ia melanjutkannya ketika Baekhee masih ada di sekitar mereka.

“Pemakaman itu luas, kami butuh waktu yang lebih banyak untuk berjalan kaki.” Baekhyun berjalan memutar dan masuk lewat pintu kemudi, “kemana kita sekarang? pulang ke rumah atau jalan-jalan?” tatapannya teralih kepada Ahn Yena yang masih mencebik disebelahnya, sambil memangku putri mereka. “Yang benar saja Na-ya, Kau masih bisa cemburu kepada orang yang sudah meninggal?”

Baekhyun mengenakan seatbelt kemudian menjalankan mobilnya pelan.  Tatapannya sesekali teralihkan untuk isterinya.

"Tidak! Kenapa juga harus cemburu?”

“Kalau begitu katakan, kenapa kau begitu sensitif hari ini?”

“Aku juga tidak tahu! Sepertinya aku hanya kelewat sebal saja saat menunggu kalian yang begitu lama datang." Perempuan itu mengelus-elus punggung puterinya yang cepat sekali terlelap di pangkuannya. “Kau sudah menyampaikan pesanku untuk Kim Taeyeon?”

Baekhyun mengangguk sambil tetap fokus mengemudi. “Sudah kubilang kepada Baekhee, kalau ia boleh memanggil perempuan itu Ibu. Puteri kita juga sempat mengelus nisannya tadi.” Baekhyun mendongak dan mendapati raut wajah Yena yang tidak terbaca. Mungkin saja perempuan itu sedang tenggelam dalam pikirannya lagi. Untuk itu, Baekhyun menggunakan sebelah tangannya untuk menggenggam jemari istrinya itu lembut, dan mengelusnya dengan penuh perhatian. “Bolehkah sekarang aku bertanya? Kenapa kau menyuruh Baekhee untuk memanggil Kim Taeyeon dengan sebutan Ibu?”

Ada keheningan panjang dan helaan nafas sebelum Yena menjawab pertanyaan Baekhyun itu. “Karena sudah selayaknya begitu, perempuan itu pergi sebelum sempat merasakan pernikahan dan rumah tangga, kufikir akan sangat bagus kalau ada anak kecil yang memanggilnya dengan panggilan Ibu. Ia layak mendapatkannya.”

Didalam situasi begini, Baekhyun hanya mengulum senyumnya yang membuat Yena heran, “Kenapa malah tersenyum begitu?”

As expected, kau selalu punya sisi lembut itu dibalik sisi beringasmu sayang. Itu yang membuatku selalu jatuh cinta untuk kesekian kalinya padamu”

How cheesy!” Baekhyun masih saja mengulum senyumnya, sebentar kemudian ia sudah memberhentikan mobilnya di tepi jalan, membuat kening istrinya bertaut heran. “Kenapa berhenti disini? Kita masih belum sampai.”

“Karena Baekhee sudah tidur."

Alis istrinya itu bertaut heran, "apa maksudmu?" 

"Maksudku, mari kita lanjutkan cumbu-mencumbu kita yang tadi.”

Oppa! Kau gila?!”

“Ayolah, semenjak ada Baekhee, kau jadi jarang menciumku sayang.”

You must be crazy Mr. Byun Baekhyun!

Yes sweetheart, i’m crazy because there is only you in my mind.”  


***

Baekhyun melangkah masuk kedalam apartemen mereka sambil mengelus-elus ubun-ubun miliknya yang masih saja terasa sakit karena jitakan istrinya itu dikepalanya tadi. Ia mendengus kesal sambil merebahkan tubuhnya diatas sofa ruang tamu, sedangkan Yena menyusul berjalan dibelakangnya dengan Byun Baekhee yang terlelap dalam gendongannya. “Oppa, tolong bantu aku menyiapkan tempat tidur Baekhee." 

Baekhyun menurut dan melesat menuju kamar mereka, mengamati lamat-mata isi kamar mereka yang tadinya terasa sangat luas kini agak sesak karena disatukan dengan kamar puterinya.

“Apa yang kau tunggu? Cepat siapkan.” rupanya Yena sudah tepat berada dibelakangnya.

Baekhyun merapikan ranjang kecil milik puteri mereka, membetulkan letak bantal-bantal warna-warni dan merebahkan selimut ketika Yena sudah membaringkan Byun Baekhee disana. Pria Byun itu tersenyum dipinggir ranjang, mengamati malakait kecil mereka yang tertidur pulas dihadapannya,

“Mimpi apa aku semalam, bisa memiliki tuan putri secantik ini.” Ia kemudian menatap jahil Yena, yang masih berdiam didalam dekapannya. “Mau membuat pangeran yang tampan seperti ku tidak?”

Baekhyun sebenarnya sudah mengekspektasikan bahwa Ahn Yena akan segera menghadiahinya dengan satu lagi pukulan dikepala yang jauh lebih menyakitkan daripada tadi, namun perempuan itu sangat tidak bisa ditebak hari ini. Apa yang dilakukan Yena adalah menghambur kepelukan suaminya dan mengecup bibir Baekhyun singkat, membuat mata lelaki itu membola dengan sempurna. “Ada apa denganmu hari ini sayang? Kau membuatku takut.”

Perempuan itu membenamkan wajahnya di dada bidang baekhyun sambil menggeleng pelan. “Aku juga tidak tahu, kepalaku pusing.”

Yena serius, kepalanya mendadak terasa berat sekali dan tubuhnya melemas. Ia ingin terus seperti ini, berdiam di dalam dekapan suaminya sambil mengamati buah hati mereka yang tertidur pulas. Namun sedetik kemudian perempuan itu sudah melepaskan pelukannya dan menginjak kuat-kuat kaki Baekhyun, membuat manusia dihadapannya itu hampir memekik kencang kalau tidak ingat anak mereka masih tertidur. Baekhyun berjingkat-jingkat dengan tangannya yang mengelus-elus telapak kaki kesayangannya yang menjadi korban dari keberingasan seorang Ahn Yena. “Ada apa denganmu?!”

“Bagaimana bisa kau tadi menyarankan untuk memiliki anak lagi?! Kau fikir hamil itu gampang ya?!”

“Astaga! Aku hanya bercanda Na-ya!”

“Apapun itu! Jangan lagi mengusulkan hal konyol seperti itu.” Perempuan itu melesat keluar kamar meninggalkan Baekhyun yang masih merintih sambil berusaha untuk tidak mengumpat dengan seluruh kekesalan dalam jiwa raga nya yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.

***


  “SUDAH BERKALI-KALI KU BILANG PAKAI PENGAMAN SAAT MELAKUKANNYA! LIHAT APA YANG TELAH KAU PERBUAT PADAKU SEKARANG!” Yena membanting kuat-kuat testpack itu ke atas meja ruang tamu, mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Kecilkan suaramu sayang, nanti Baekhee bisa bangun!” Baekhyun melepaskan ponselnya, memusatkan seluruh perhatiannnya kepada perempuan yang sudah berkacak pinggang dihadapannya, “memangnga apa yang salah dengan punya anak lagi? Ini kabar baik Na-ya.”

Tidak mungkin kalau itu bukanlah kabar baik, tapi Yena hanya merasa benar-benar kesal saja. Ia ingin mempunyai anak lagi jika sudah merencanainya dengan matang-matang, minimal saat Baekhee sudah masuk ke Sekolah Dasar dan semuanya terasa tidak terlalu merepotkan. Namun semuanya menjadi berjalan diluar rencana karena seorang Byun Baekhyun yang teramat sulit untuk menahan nafsunya. Jujur saja Yena juga menikmatinya, namun ia sudah tegaskan berkali-kali kepada Baekhyun untuk memakai pengaman. Namun seorang Byun Baekhyun itu memang benar-benar senang sekali bertindak sesuka hatinya. Atau memang lelaki itu sudah merencanakannya sendirian?

Yena ingin sekali mengumpat, namun mulutnya terbungkam oleh tangannya sendiri seiring dengan langkahnya yang terbirit-birit menuju westafel. Ia memuntahkan seluruh isi perutnya ke sana, kepalanya jadi semakin berat. Dan ia baru menyadari mengapa perubahan moodnya akhir-akhir ini terasa berubah drastis. Semuanya karena ia tengah memasuki masa kehamilan trimester pertama. Ia membasuh mulut dan wajahnya, kemudian sebuah lengan kekar sudah melingkar di pinggangnya. Rupanya Baekhyun memeluknya dari belakamg dengan dagunya yaang ditumpu di bahu istrinya. “Maafkan aku, membuatmu seperti ini lagi. Aku benar-benar minta maaf...”

Yena jadi merasa semua ini seperti dejavu, ia pernah merasakan pelukan hangat dan situasi yang sama saat ia hamil anak pertama dulu. Dan tidak ada yang berubah dengan perhatian yang diberikan oleh Baekhyun, setelah semua sikap kasar Yena hari ini, lelaki itu masih saja begitu mengkhawatirkannya. “Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kita ke dokter malam ini saja? Aku akan menitipkan Baekhee ke Chanyeol sebentar.”

Perempuan itu menggeleng pelan, “besok saja.” Perempuan itu berbalik dan menatap Baekhyun dalam diam sebelum melanjutkan, “anu, Oppa....”

 “Kenapa sayang? Kau membutuhkan sesuatu?”

“Tiba-tiba aku mengidam gado-gado khas Indonesia. Bisakah kau membelikannya untukku sekarang?”

Dan harus kemana Baekhyun mencari gado-gado khas Indonesia tengah malam begini?







fin.







wait for bonus chapter